• in-01
  • wordpress slider plugin
  • in-04
in-011 in-022 in-033

Media

TIA Keeps Mining Age Longer
04 Jan

(Only in Bahasa) BANJARMASIN — PT Tunas Inti Abadi, anak usaha dari PT Reswara Minergi Hartama, berupaya memperpanjang usia tambang hingga 2024 lewat peningkatkan rasio pengupasan (stripping ratio) dengan tetap mempertimbangkan keuntungan.


Hari Sutikno, Kepala Teknik Tambang Tunas Inti Abadi, mengatakan bahwa tingkat keenomisan batu bara yang dapat diproduksi dengan besaran stripping ratio (SR) 5,6.

Sementara itu, untuk tahun depan pihaknya memperkirakan akan meningkat menjadi 6,3 dan pada 2019 diperkirakan berada di angka 9,0.

“Kami coba memperpanjang sampai 2024 dengan IUP [izin usaha pertambangan] yang ada. Kalau harga jualnya bertahan seperti sekarang, memang sebesar itulah [5,3–9] yang paling ekonomis,” tuturnya, (9/11).

Stripping ratio menunjukkan perbandingan antara volume (tonase) tanah penutup yang harus dibongkar untuk mendapatkan 1 ton batubara pada areal yang akan ditambang.

Semakin turun rasio pengupasan, umur tambang menjadi lebih pendek karena jumlah cadangan batu bara yang bisa ditambang kian menyusut.

Tunas Inti pesimistis dengan kondisi musim penghujan yang relatif panjang pada tahun ini, target produksi sebesar 5,3 juta ton pada tahun ini sulit dipenuhi. Hingga Kamis (9/11), Tunas Inti sudah memproduksi batu bara sebanyak 4,5 juta ton. Ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi target produksi hanya dihalangi oleh faktor cuaca saja.

Perusahaan yang mulai berproduksi pada 2011 itu memiliki luas konsensi sebesar 3.074 hektare di wilayah administrasi Sei Loban, Kalimantan Selatan. Selain itu, Tunas Inti juga memiliki izin pinjam kawasan hutan mencapai 1.700 ha.

Hari mengatakan bahwa perusahaan baru menambang sebesar 1.200 ha sehingga peluang untuk memperpanjang usia tambang yang habis pada 2021 terbuka lebar. “Nanti kalau harganya sudah mencapai US$60 per ton barulah kami berani eksploitasi batu bara dengan SR 18,” tambahnya.

SIAPKAN IUP

Menurutnya, Reswara saat ini juga sedang melakukan kajian atau due diligence untuk melihat kemungkinan izin konsesi terbaru. Perusahaan yang menjadi bagian dari ABM Grup tersebut juga telah melakukan percobaan eksplorasi selama 2 pekan dan rencananya akan berakhir pada akhir November.

Hari memproyeksi, dengan IUP yang baru, ada cadangan batu bara yang ekonomis sebesar 6 juta ton.

“Itu hitungan kasar saja, bisa mungkin lebih besar lagi, karena kami 2 minggu ini masih eksplorasi. Mungkin bisa sampai 10 juta ton,” tutur Hari.

Dengan hadirnya IUP baru, menurutnya, produksi dari IUP yang ada saat ini dapat diturunkan sehingga mampu memperpanjang usia tambang sekaligus memberikan keringanan beban pembiayaan tambang Tunas Inti Abadi.

“Sejauh ini kami kompetitif karena mampu mengantar hasil produksi dengan tepat waktu dan dengan kualitas yang terjaga. Itu membuat kepercayaan bagi pembeli,” katanya.

Tunas Inti didirikan pada 2003, yang kemudian diakuisisi oleh PT Sumberdaya Sewatama dan PT sanggara Sarana Baja pada 2017. Selanjutnya pada 2010, PT ABM Investama Tbk. mengakuisisi perusahaan dari PT Sumberdaya Sewatama dan akhirnya mengalihkan kepemilikan saham perusahaan pada Reswara.

Perusahaan yang menjadi penghasil cuan besar bagi ABM Grup ini memproduksi batu bara subbituminus atau yag memilik belerang rendah dan batu bara abu.

Sumber: Bisnis Indonesia